Abstract of the Island, they continue to improve cooperation

Abstract : The relationship between China and Japan was ups and
downs, with Japan and China having bitter memories in the pre-war era until the
end of the second world war. The hatred and sentiment of Chinese society to
Japan began in 1931 when the Nanking and Mukden incidents occurred. Other
events that quite aggravate the relationship of both is with the dispute area
of Senkaku Island or Diayou Island. However, although on the political side of
the two countries are different and have problems of history and disputes of
the Island, they continue to improve cooperation relations in the economic
field after signing the normalization of their relationship to date. The
relationship makes both dependencies and makes them inseparable as economic
partners. Therefore, their future relationship will tend to be cooperation
rather than conflict. This research uses descriptive qualitative method in this
research analysis.

Key words: cooperation,
economic cooperation, China-Japan future,

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Pendahuluan

Di
kawasan Asia Timur terdapat dua negara yang mengalami perselisihan sampai saat
ini yakni China dan Jepang. Hubungan China dan Jepang memiliki pasang surut
sampai saat ini. Hal tersebut dikarenakan diantara keduanya memiliki sejarah
yang cukup panjang. Dipendidikan negara China sendiri tertulis mengenai sejarah
kelam, yang awalnya adalah pengalaman nasional traumatis China pada saat
terjadinya Perang Opium pertama pada tahun 1839-1842 sampai pada pengalaman
mengenai perang Sino-Jepang kedua yang berakhir pada tahun 1945. Pemerintah
China pun sampai saat ini terus membeberkan fakta sejarah mengenai kejahatan
Jepang dan Barat di dalam pendidikan dari jenjang taman kanak-kanak sampai
perguruan tinggi. Selain itu pemerintah juga turut membangun monumen bersejarah
untuk memperingati sejarah tersebut.1

Perang
antara Jepang dan China dimulai pada tahun 1931, dimana pada saat itu Jepang
menduduki wilayah Manchuria di China. Hal tersebut membuat awal terjadinya
konflik besar antara China dan Jepang pada tahun 1937.2
Pada perang antara kedua negara tersebut juga memunculkan stigma negatif Jepang
oleh China sampai saat ini, hal tersebut disebabkan karena terbunuhnya 300.000
masyarakat China yang dilakukan oleh tentara kekaisaran Jepang selama perang
terjadi. Terbunuhnya banyak orang China itu dinamakan sebagai peristiwa
Nanking.3
Selain peristiwa Nanking, insiden lain yang dilakukan oleh Jepang di China
dibuktikan dengan adanya insiden Mukden, yang mana tentara militer Jepang
meledakkan jalur kereta api disekitar Mukden dan menuduh warga China sebagai
dalang dalam dalam peledakan kejahatan tersebut. Karena adanya tragedi dan
peristiwa tersebut kedua negara sampai saat ini terlebih China memiliki stigma
negatif terhadap Jepang.4

Selain
adanya peristiwa-peristiwa yang dilakukan oleh Jepang di China yang membuat
adanya kenangan pahit diantara keduanya, kedua negara ini juga mengalami
perselisihan sengketa wilayah kepulauan Senkaku (dalam bahasa Jepang) atau
wilayah kepulauan Diayou (dalam bahasa China). Sejarah sengketa ini terjadi
sudah sejak lama yaitu awalnya dimulai pada tahun 1895, ketika Jepang menduduki
pulau Senkaku yang merupakan sebuah pulau yang tidak dihuni oleh penduduk. Pada
saat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap bahwa di pulau Senkaku terdapat
banyak cadangan gas bumi dan minyak dan dua tahun setelahnya pemerintah
Republik Rakyat China mengklaim bahwa secara sejarah pulau Senkaku atau Diayou
adalah miliknya.5
China menganggap Jepang mengambil pulau tersebut pada saat China menyerah
kepada Jepang tahun 1895. Selain itu China juga menyebutkan bahwa pada
perjanjian Shimonoseki, Jepang tidak menyebutkan pulau Senkaku atau Diayou
didalam perjanjiannya. Sehingga China menganggap bahwa pulau Senkaku bukan
bagian dari Jepang.6

            Peristiwa dan sengketa yang dialami
oleh kedua negara sampai ini menjadi gejolak yang menimbulkan adanya pasang
surut hubungan China dan Jepang. Dalam hal ini penulis akan melihat mengenai
masa depan hubungan China dan Jepang dibalik adanya peristiwa yang menjadi
kenangan pahit dipihak China dan sengketa pulau yang masih belum terselesaikan
hingga saat ini, apakah masa depan China dengan Jepang cenderung konfliktual
ataukah masa depan hubungan kedua negara mengalami peningkatan dalam bidang
lain seperti ekonomi.

Metode Penelitian

            Dalam
jurnal penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif, yang
mana dalam penelitian ini penulis melakukan pendeskripsian lewat kata-kata dari
sumber data yang diperoleh melalui sumber pustaka seperti tulisan-tulisan,
jurnal, buku, artikel, koran, dokumen dan lain sebagainya.7
Selain itu teknik pengumpulan data untuk jurnal penulis ini adalah kepustakaan
yang mana informasi yang ditemukan dengan fenomena yang terjadi dianalisa
dengan pendeskripsian atau penggambaran dan penjelasan yang mendetail.8

Hasil dan Pembahasan

            Masa depan hubungan China dan Jepang
dibalik peristiwa dan sengketa yang terjadi yakni pengalaman pahit peristiwa
Nanking dan Mukden, dan sengketa pulau Senkaku atau Diayou dapat dianalisis
dengan melihat kenyataan hubungan keduanya sampai saat ini. Normalisasi
hubungan China dan Jepang dimulai pada tahun 1974 dan ditandangani pada tahun
1978 di era kepemimpinan Den Xioping, yang mana pada era kepemimpina tersebut
China mulai memberlakukan adanya kebijakan Open Door Policy. Kebijakan ini
mulai membuka hubungan China dengan negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat
dan Eropa. Selain itu juga pada era pemerintahan tersebut, investasi di China
tidak hanya dilakukan didalam negeri saja tapi keterbukaan ekonomi mulai
terjadi di era ini. Dalam hal ini pada era Deng Xiaoping China mulai mengalami
keterbukaan dalam hal ekonomi, pendidikan dan perpolitikan salah satunya yaitu
dengan normalisasi hubungan dengan Jepang.9

            Normalisasi China dan Jepang dimulai
dengan disepakatinya perjanjian Sino-Japan
Treaty of Peace and Friendship. Dalam hal ini keduanya sepakat untuk
memperbaiki hubungan dan memulai kembali menjalin hubungan diplomatik yang
damai dan bersahabat. Setelah hubungan kembali normal, kedua negara mulai
melakukan kerjasama dibidang perekonomian antar kedua negara, seperti kerjasama
perdagangan, penerbangan, investasi dan navigasi. Normalisasi hubungan antara
kedua negara ini membuat adanya keuntungan untuk kedua belah pihak, yang mana
China merupakan pasar besar bagi barang dan jasa produksi Jepang. Sedangkan
Jepang merupakan pasar besar bagi investasi China. Keduanya saling melengkapi
hal tersebut dapat dilihat dari China yang memiliki sumber daya alam yang kaya,
tenaga kerja yang banyak dan memiliki modal sementara, sedangkan Jepang
memiliki pengetahuan, teknologi dan informasi yang banyak.10

            Hubungan keduanya pasca normalisasi
tidak selalu berjalan mulus dan tanpa adanya halangan. Sengketa kepulauan
Senkaku atau Diayou kerap menimbulkan sentimen terhadap Jepang di China dan
juga sentimen China di Jepang juga kerap muncul. Pada tahun 2010 yakni ketika
ada warga negara China yang melakukan kegiatan memancing diwilayah Pulau
senkaku membuat adanya aksi protes masyarakat Jepang terhadap China atas hal
tersebut.11
Selain itu pada tahun 2012, hubungan keduanya juga cukup merenggang karena
memanasnya konflik sengketa wilayah pulau, yang mana Jepang melakukan pembelian
dan nasionalisasi yang kemudian memicu protes masyarakat China karena Jepang
dianggap melanggar sejarah dan juga kedaulatan wilayahnya.12

Sehingga
pada tahun 2012 China dibawah State
Council Informaion Office China  pun
mengeluarkan sebuah White Paper atau makalah putih yang berisi statement yang
menyatakan bahwa klaim atas kepemilikan pulau Senkaku atau Diayou milik Jepang
adalah sebuah pernyataan yang salah. Secara sejarah juga menurut China jepang
telah menyalahi sejarah, karena pada saat itu Jepang melakukan invasi ke China
dan setelah Jepang menyerah kepada sekutu harusnya kepemilikan Pulau Senkaku
juga dikembalikan ke China. Selain itu perjanjian antara Jepang dan Amerika
Serikat pada saat itu mengenai kepemilikan Pulau Senkaku atau Diayou tidaklah
valid menurut China karena tidak sesuai fakta. Dalam hal ini China mengambil
tindakan tegas untuk melindungi wilayah kedaulatannya. China mengeluarkan
pernyataan ini dikarenakan karena tindakan Jepang yang menyalahi perjanjian
normalisasi hubungan antara keduanya yang diharapkan secara damai dan
bersahabat yang disepakati pada tahun 1978. Pernyataan mengenai nasionalisasi
dan pembelian Pulau Senkaku juga dilakukan secara sepihak, sehingga membuat
hubungan keduanya sedikit memanas.13

Meski
kedua negara berseteru karena sejarah panjang dan sengketa pulau yang belum
memiliki titik temu dan juga politik keduanya yang berbeda yakni China yang berideologi
komunis dan Jepang yang berideologi liberalis. Hubungan keduanya dalam bidang
ekonomi pasca normalisasi cenderung meningkat. Terlebih lagi China juga
melakukan modernisasi dan membuat kebijakan terbuka dan reformasi terhadap
ekonomi. Terbukanya perekonomian China yang semulanya tertutup membawa negara
tersebut kepada kemajuan. Hal itu bisa dilihat dari meningkatnya pertumbuhan
PDB di China rata-rata 9,6% pertahun dari tahun 1979 sampai 1999. Pemerintah
yang saat itu menjabat yakni Deng Xiaoping yang juga merupakan bapak
perekonomian China terus mengupayakan negara China dapat bersaing dengan
negara-negara di Dunia. Selain itu juga pada saat terjadi krisis di Asia pada
tahun 1998, China mulai belajar untuk tumbuh secara pesat dengan masuk ke
organisasi perdagangan bebas yaitu World
Trade Organization (WTO).14

Pasang
surut kerjasama ekonomi antara keduanya juga pernah terjadi pada tahun 2012
dikarenakan isu yang memanas akibat sengketa Pulau Senkaku atau Diayou oleh
kedua negara. Sehingga menimbulkan beberapa dampak seperti penurunan ekspor
mobil dan barang lainnya Jepang ke China, penurunan pariwisata di Jepang dan
China, penurunan investasi China di Jepang dan hilangnya minat kerjasama orang
China dalam melakukan kerjasama dengan Jepang.15
Namun tetap saja hubungan keduanya dibidang perekonomian tidak bisa
terpisahkan, meski pernah mengalami pasang surut hubungan perekonomian tidak
bisa berseteru dalam jangka waktu panjang seperti pada hubungan politik kedua
negara. Jepang memiliki Asosiasi Promosi Perdagangan Internasional atau Japanese
Association for Promotion of International Trade (JAPIT) dan China memiliki
dewan promosi untuk Perdagangan Internasional atau China Council for The Promotion of International Trade (CCPIT).
Kedua asosiasi ini memainkan penting mengenai perdagangan kedua negara dan juga
menyerukan agar kedua negara kembali melakukan normalisasi hubungan dengan cara
yang benar sehingga kerjasama perekonomian keduanya juga mengalami peningkatan.16

Kedua
negara tersebut memiliki peran penting dalam hubungan perekonomian. Dalam sisi
China, Jepang merupakan negara yang berperan penting dalam pemenuhan produk
semi konduktor di China, seperti peralatan elektronik, mesin presisi dan juga
bahan dasar untuk pabrik yang ada di China. Dalam hal ini China sangat
bergantung terhadap bahan baku dan peralatan produksi dari Jepang, yang
nantinya pabrik di China melakukan perakitan dan kemudian hasil jadinya
diekspor ke luar negeri. Selain itu Jepang juga merupakan investasi asing yang
penting bagi China, yang mana Jepang investasi di China mencapai 7,38 miliar
USD dan investasi China dari tahun ke tahun selalu meningkat.17
Pada sisi Jepang, China merupakan mitra yang sangat penting dikarenakan adanya
beberapa hal yaitu bahwa China merupakan pengimpor bahan energi yang besar ke
Jepang, yang mana ketika Jepang kekurangan energi maka China yang memback up.
Selain itu China merupakan negara yang paling banyak menyumbang wisatawan asing
ke Jepang. Hal tersebut dikarenakan wilayah keduanya yang berdekatan dan juga pariwisata
Jepang yang memiliki keunikan. Selain itu China juga merupakan pasar besar bagi
produk-produk Jepang.18

Masa
depan hubungan China dan Jepang dapat diprediksi lebih kepada kerjasama ekonomi
dengan Jepang. Dikarenakan China sampai saat ini masih memiliki permasalahan
berupa sengketa pulau Senkaku atau Diayou dengan Jepang. Selain itu dalam hubungan
politik keduanya masih menyimpan masalalu yang kelam sehingga terjadi pasang
surut hubungan.19
Kerjasama yang dilakukan China dan Jepang ini juga disebabkan karena China saat
ini mengeluarkan kebijakan China Peaceful
Rise yang menjadikan China melakukan banyak pengembangan dan kebangkitan
negaranya secara damai. Dulu yang awalnya China menjadi negara yang miskin bisa
berkedudukan setara dengan Jepang. Sampai saat ini pun China dan Jepang
berlomba-lomba untuk bersaing dalam bidang ekonomi, meskipun kedudukan
perekonomian China saat ini mengalami banyak sekali peningkatan dibandingkan
oleh Jepang. Pertumbuhan Perekonomian ini nantinya juga akan digunakan oleh
China untuk menjadi hegemoni di kawasan maupun di Dunia menyaingi Amerika
Serikat.20

Hubungan
masa depan China dan Jepang diprediksi akan terus meningkat dalam bidang
ekonomi seperti perdagangan barang dan jasa, investasi dan bisnis. Keterkaitan hubungan
kedua negara saat ini juga tidak hanya satu arah saja atau dapat dikatakan
hanya menguntungkan Jepang saja, namun hubungan keduanya berubah seiring China
mengalami peningkatkan perekonomian menjadi hubungan yang dua arah. Kedua
negara ini saling memiliki sisi yang sama untuk melakukan kerjasama dalam
bidang ekonomi.21
Dapat disimpulkan bahwa peristiwa sejarah antara China dan Jepang beserta
sengketa yang terjadi diantara keduanya tidak menghalangi kerjasama antar
keduanya dan prediksi masa depan China dan Jepang akan lebih pada kerjasama
daripada konflik yang berlarut.

1 Zheng
Wang, 2014, History Education : The Source of Conflict Between China and Japan,
, diakses dari https://thediplomat.com/2014/04/history-education-the-source-of-conflict-between-china-and-japan/
pada 18 Desember 2017

2 Richard
Overy, China’s War with Japan, 1937-1945: The Struggle for Survival by Rana
Mitter Review, diakses dari https://www.theguardian.com/books/2013/jun/06/china-war-japan-rana-mitter-review
pada 18 Desember 2017

3 Hong
Soon Do,2015, China-Japan Relations Worsen Ahead of 79th Anniversary of The
Nanjing Massacre, diakses dari https://www.huffingtonpost.com/asiatoday/china-japan-relations-wor_b_13573456.html
pada 18 Desember 2017

4 Egidius
Patnistik, Akar Dendam Panjang China Kepada Jepang, diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2012/09/20/0812456/Akar.Dendam.Panjang.China.kepada.Jepang
pada 25 November 2017

5 Kasper M
Garlicki, 2014, The Senkaku/Diayou Island Dispute: History and Current
Development, diakses dari https://eurasiacenter.org/publications/Senkaku_Diaoyu_Island_Dispute.pdf
pada 18 Desember 2017

6 Ibid,hlm
3

7 Suwardi
Endaswara, Metode, teori, teknik penelitian kebudayaan, Yogyakarta : Pustaka
Widyagama, hlm 85

8 Mestika
Zed, 2004, Metode Penelitian Kepustakaan, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, hlm
31

9 Ezra F
Vogel, 2011, China Under Deng Xiaopings Leaders, diakses dari http://www.eastasiaforum.org/2011/09/27/china-under-deng-xiaopings-leadership/
pada 18 Desember 2017

10 Mao
Jing, Economic Cooperation Benefits Both China and Japan, diakses dari http://www.chinadaily.com.cn/world/2014-08/20/content_18455171.htm
pada 18 Desember 2017

11 Sheila
A Smith, Japan and The East China Sea Dispute , diakses dari https://www.cfr.org/content/…/Japan_and_the_East.pdf pada 18 Desember 2017

12 Ministry
of Foreign Affairs of the People ‘s Republic of China, Diayou Dao, an Iherent
Territory of China, diakses dari http://www.fmprc.gov.cn/mfa_eng/topics_665678/diaodao_665718/t973774.shtml
pada 28 November 2017

13 Ibid.

14
Ministry of Foreign Affair Japan, Economic Cooperation Program for China,
diakses dari http://www.mofa.go.jp/policy/oda/region/e_asia/china-2.html
pada 18 Desember 2017

15 Juan
Du, Development Trend of Sino-Japanese Economic and Trade Relations, diakses
dari http://www.sciedu.ca/journal/index.php/bmr/article/download/5007/2942
pada 18 Desember 2017

16 TomMcGregor,
China and Japan can Boost Economic Cooperation Partnerships, diakses dari http://english.cctv.com/2017/04/13/ARTInvdjInuPGJ8rXnlzxNpp170413.shtml
pada tanggal 18 Desember 2017

17 Juan
Du, Loc.cit, hlm 2

18 Ibid

19 Judith
F.Kornberg, 2005, China In World Politics, US: Lynne Rienner Publisher, hlm 206

20 Zheng
Bijian, 2005, China’s ”Peaceful Rise” to Great Power Status, diakses dari https://www.foreignaffairs.com/articles/asia/2005-09-01/chinas-peaceful-rise-great-power-status
pada 18 Desember 2017

21 Chi
Hung Kwan, 2014, The Rise of China and Transformation of Japan-China Relations:
Opportunities and Challenges For Japan, diakses dari https://www.rieti.go.jp/en/china/14080501.html
pada 18 Desember 2017

x

Hi!
I'm Dominick!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out
x

Hi!
I'm Dominick!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out